DIA tidak pernah terlambat memberi. Bahkan tidak pernah alpa DIA menjenguk.
Aku minta tanda. DIA beri nyata.
Aku minta tanda. DIA beri kekuatan.
Karena DIA tahu, aku tidak sanggup menerima tanda itu sendirian.
DIA beri tanda. Aku kecewa sendiri. Aku berdiri, DIA biarkan aku belajar berlari.
Tanda ini mungkin sengaja dipersiapakan, sampai aku sanggup mengetahui. Sampai mana kisah ini akan berakhir.
Aku percaya, tidak selamanya tanda membenarkan segalanya.
Aku percaya, DIA menyempurnakan segalanya.
KataNya, aku tidak perlu kuatir, karena hari-hari yang getir. Karena itu membuatku kuat bukan main.
DIA beri tanda. DIA beri air mata. DIA punya cara. DIA penuh rahasia. Rahasia indah, rancangan damai sejahtera.
Rabu, 12 Juni 2013
DIA BERI TANDA
Minggu, 09 Juni 2013
Gugur Berterbangan
Kemudian ketika serat-serat daun halus menyampaikan makna. Makna itu berguguran membentuk barisan rapih tanpa alasan.
Angin menyentuh serat itu. Bergerak menjauhi pohon. Pohon itu akan tumbang sebentar lagi. Beruntunglah daun yang lebih dahulu jatuh. Ia mempunyai sekian juta peluang untuk tidak tertimpa pohon itu.
Ada daun yang lebih beruntung. Ia menyapa angin. "srrt" ia melepaskan diri dari pohon dan bergerak.
Ia tidak jatuh ke bawah. Ia tertiup angin. Angin malam penuh nuansa dingin.
Seseorang melihat daun itu. Mencoba meraihnya, daun itu sampai masuk ke sela-sela jari genggamannya. Daun itu lepas. Ia diperas. Berguguran.
Tidak ada satu mahlukpun yang peduli dengan keberadaan daun itu. Ia diinjak. Entah apa rasanya. Ia juga tidak tahu. Karena seluruh seratnya telah hancur dan membelah menjadi beberapa potong bagian. Hingga seperti atom yang tak terlihat.
Ia terbang... setelah gugur, ia tersapu jalanan. Terbang... bagian-bagian kecilnya bergerak perlahan. Mundur atau maju ke belakang.
Dengan berguguran dan berterbangan, ia melihat dunia. Dunia yang sebelumnya hanya ia saksikan dari atas, tanpa bisa menuruni langsung.
Ia merasakan bumi. Kejamnya bumi. Kebaikannya bumi. Ia cicipi... dengan anggota serat yang sudah lepas satu dengan yang lainnya.
Terkadang, ia merasa, bahwa seratnya yang telah hancur membuat ia belajar. Belajar menikmati dunia. Belajar terbang dari jalan satu ke jalan yang lain.
Ia puas mencicipi kehangatan jalan. Kelembapan tanah. Ia puas.
Ia disapu oleh petugas kebersihan. Rasanya sakit. Sapu itu tajam. Seratnya makin sulit disatukan.
Ia masuk ke dalam kotak. Di sana... ia bertemu dengan serat yang lain. Berbagi cerita. Ada duka ada suka. Hingga pada akhirnya... ia kembali ke pohon yang sama. Dibuang dalam bentuk serat. Pohon itu tumbang.
Menimpa dia dan beberapa helai daun yang lain. Namun ia tetap merasa berutung. Ia jatuh berguguran hingga terbang dengan alasan. Alasan mencari jawaban tanpa beban.
Angin menyentuh serat itu. Bergerak menjauhi pohon. Pohon itu akan tumbang sebentar lagi. Beruntunglah daun yang lebih dahulu jatuh. Ia mempunyai sekian juta peluang untuk tidak tertimpa pohon itu.
Ada daun yang lebih beruntung. Ia menyapa angin. "srrt" ia melepaskan diri dari pohon dan bergerak.
Ia tidak jatuh ke bawah. Ia tertiup angin. Angin malam penuh nuansa dingin.
Seseorang melihat daun itu. Mencoba meraihnya, daun itu sampai masuk ke sela-sela jari genggamannya. Daun itu lepas. Ia diperas. Berguguran.
Tidak ada satu mahlukpun yang peduli dengan keberadaan daun itu. Ia diinjak. Entah apa rasanya. Ia juga tidak tahu. Karena seluruh seratnya telah hancur dan membelah menjadi beberapa potong bagian. Hingga seperti atom yang tak terlihat.
Ia terbang... setelah gugur, ia tersapu jalanan. Terbang... bagian-bagian kecilnya bergerak perlahan. Mundur atau maju ke belakang.
Dengan berguguran dan berterbangan, ia melihat dunia. Dunia yang sebelumnya hanya ia saksikan dari atas, tanpa bisa menuruni langsung.
Ia merasakan bumi. Kejamnya bumi. Kebaikannya bumi. Ia cicipi... dengan anggota serat yang sudah lepas satu dengan yang lainnya.
Terkadang, ia merasa, bahwa seratnya yang telah hancur membuat ia belajar. Belajar menikmati dunia. Belajar terbang dari jalan satu ke jalan yang lain.
Ia puas mencicipi kehangatan jalan. Kelembapan tanah. Ia puas.
Ia disapu oleh petugas kebersihan. Rasanya sakit. Sapu itu tajam. Seratnya makin sulit disatukan.
Ia masuk ke dalam kotak. Di sana... ia bertemu dengan serat yang lain. Berbagi cerita. Ada duka ada suka. Hingga pada akhirnya... ia kembali ke pohon yang sama. Dibuang dalam bentuk serat. Pohon itu tumbang.
Menimpa dia dan beberapa helai daun yang lain. Namun ia tetap merasa berutung. Ia jatuh berguguran hingga terbang dengan alasan. Alasan mencari jawaban tanpa beban.
Sabtu, 08 Juni 2013
Siapa Menyapa
Seperti kisah di hari minggu. Saat dia menepuk pundakku dan menyapaku sehangat mentari. Ia tersenyum. Senyum yang dari jarak jauhpun aku sudah tahu.
Pertanyaan yang meluncur kemudian adalah "Hei... gimana, kamu sudah lulus?"
Walaupun bukan bertanya "kamu apa kabar?"
Aku tetap terpana terpaku. Seakan semua pertahanan diri berlalu.
Aku ingin melompat lebih tinggi, menggapai yang selama ini tidak pernah aku bayangkan akan terjadi.
Baru kali ini, aku payah. Payah dalam berlari dari sebuah tegur sapa.
Kujawab secara polos tanpa menghitungkan tanggapannya "Ya... masih semester enam kak"
Kemudian aku berlalu dan pergi dengan rasa riang tanpa terlihat girang.
Langganan:
Postingan (Atom)