Senin, 13 Januari 2014

Percakapan Gak Penting

Hari senin yang mendung menjadi latar percakapan kami. Setelah makan siang, aku memutuskan untuk leyeh-leyeh dulu di dekat kamar mama. Sambil mama menyetrika, aku dan mama mengobrol santai. Tentang keluarga, tentang hal-hal sepele, seperti dulu waktu mama lomba kebaya, make up di mana, soalnya dia cantik banget waktu itu, ngobrol-ngobrol nanti pake kebaya warna apa buat wisuda kelak, habis itu diomelin, jangan kebanyakan mikir pake kebaya model apa dan warna apa, tapi pikirkanlah revisian!
Oke baiklah.
 Habis itu dimarahin, gara-gara mikirin jalan-jalan melulu. Oh God, I love travelling and i can't stop my imagination for not speaking about that.
Mamapun giliran bercerita, ini sih awalnya ngobrolin keluarga si bos yang ngajak mama ke undangan nikahannya orang batak di sebuah hotel mewah di Bandung. Hahaha...
Sambil manyun, gara-gara mama cerita di sana banyak makanan yang enak-enak, akhirnya aku mikir sesuatu dan berani bertanya "waktu itu kok heni gak diajak? Emang heni lagi di mana?"
Si mama sambil lalu ke dapur nyeletuk "Gak tau. Heni kan bukan anak rumahan, kerjaannya keluyuran"
Oke fine....
Sebenarnya predikat 'keluyuran' udah dari zaman masih SMP. Orang lain, kalau pulang sekolah langsung pulang, atau pergi les privat, heni kalo pulang sekolah, hehehe.... tau gak ke mana? Lembang. Ke rumah teman, metik stroberi, leyeh-leyeh dan pulang setelah jam 19:00 malam.
Setelah banyak kejadian geng motor di Bandung, aku jarang keluyuran lagi, suer... bukan karena takut gelap atau karena hantu-hantu di Bandung yang belum ditertibkan, sebenarnya lebih takut sama manusia jahat yang berlebel geng motor. Akhirnya, keluyuranpun pindah ke lokasi lain.
Percakapan siang yang mendung hari ini emang gak penting banget, tapi kalau bikin mama frustasi sih sering, hahaha.. anaknya kalo ngomong pasti gak jauh-jauh soal sepatu, baju, dan jalan-jalan. Lalu hujanpun turun dengan derasnya dan aku beranjak ke kamar menyalakan blanco.

Jumat, 10 Januari 2014

Perempuan di dekat toga kepala

Kadang menulis dalam kemacetan itu seru juga. Apalagi ketika hujan mulai turun deras dan jalanan macet total seperti sekarang ini.
Well... i'm talking with my brain and heart right now.
Tetiba terpikir, nanti kalau aku diwisuda, memakai toga, dan lulus dengan baik-baik saja. Siapa yang akan datang memberikan ucapan "selamat"?
Jawabannya "banyak"
My family of course.
Tapi family seperti apa sih? Atau siapa sih?
Jawabannya adalah "perempuan-perempuan tangguh"
Kata tantenku yg di Jakarta, "kalau bisa kamu undang mbah putri (nenek) juga pas wisuda"
Sebenarnya ada jeda diam yang cukup lama di kepalaku.
Semuanya perempuan. Mamaku, nenekku, dan seorang tante.
Tidak adakah laki-laki yang.akan hadir kelak?
Selain supir taksi yang mungkin, kami pakai taksinya untuk pergi ke Graha Sanusi.
Boleh aku sirik akan beberapa hal?
Yap... orang lain mungkin akan berfoto bersama ayah dan ibunya.
Kakak dan adiknya, atau mungkin pacarnya.
Jangan tanya aku?
Aku kan anak tunggal, dari satu ibu dan kekosongan sesosok ayah.
Sepupuku yang laki-laki aku tidak dekat dengan mereka, mana mungkin mereka datang.
Om dan pakdeku pun tidak mungkin.
Jadilah nanti semua yang di dalan foto album adalah perempuan-perempuan tangguh.
Pacar? Ha.... pertanyaanmu lucu sekali hati... agak lama sepertinya itu terjadi. Sampai Tuhan bilang "ini yang pasti"

Tapi perempuan-perempuan hebat itu lebih dari cukup, itu berarti sebuah pertanda masih ada kasih di antara kami semua. Perempuan, perempuan yang punya cita-cita.

Kamis, 09 Januari 2014

Gelas yang Jatuh

Kalau kamu pernah menonton sinteron, lalu melihat sebuah adegan gelas jatuh, pasti di saat bersamaan tokoh di dalam sinetron tersebut kecelakaan-lah, mati-lah, atau ada sesuatu yang buruk pasti terjadi di dalam adegan tersebut.
Malam ini aku berniat menyeduh kopi, begadang mengerjakan bab satu sebelum besok (mudah-mudahan) bertemu dosen pembimbing untuk revisi tahap pertama. Aku memang memikirkan seseorang sambil menyeduh kopi, aku taruh gelas yang sudah diisi kopi ke pinggir meja dekat dapur, namun entah mengapa, tangangku menyenggol sebuah gagang kain pel di pinggir meja tersebut, padah gerakan kain pel itu pelan, namun gelas yang di pinggir meja, jatuh lalu pecah.
Pertanda? Atau ya memang kebetulan?
Namun karena gelas jatuh itulah, akhirnya aku menulis kembali. Bisa-bisa aku terjebak dalam kebingunganku sendiri. 
Kalaupun pertanda seperti yang ada di sinteron-sinteron, aku tidak mau hal itu sampai terjadi. Jangan sampai, dia yang tengah kupikirkan semoga baik-baik saja.
Ada lagi pertanda kedua, umpanya saja gelas itu hatiku. Lalu memikirkan dia. Kemudian akhirnya pecah juga. Hancur berkeping-keping, berantakan.  Apakah itu pertanda, aku harus berhenti memikirkannya?
Apakah itu pertanda, kalau nanti aku memikirkannya terus menerus akhirnya hancur juga?
Kalaupun benar, lewat sebuah tanda gelas yang jatuh, aku akan mencoba melupakan. Pasti bisa.
Move on yang seperti zaman sekarang sudah digembar-gemborkan sudah kulakukan berkali-kali. Untuk kali ini pasti bisa. 
Kalau Tuhan "belum", jangan paksa Tuhan untuk menyentuh doamu, sehingga kamu dengan rakusnya, bertindak membodohi diri sendri.
Lagi pula beberapa minggu ini, kami tidak berkomunikasi, lalu apa yang harus diharapkan lagi?

Follow my Twitter @_heniie