Rabu, 27 Februari 2013

Takut Malu Bertemu

Sebenarnya yang paling menakutkan menyukai seseorang adalah bertemu dengan orang itu sendiri. Takut keliatan jelek, takut salah ngomong, dan takut takut yang lainnya. Itulah mengapa aku sering menghindar sejauh-jauhnya. Karena ya itu tadi, takut.
Lebih baik tidak bertemu dan menyimpan perasaan dengan sungguh-sunggu. Daripada bertemu, kalau dia tahu. Malulah aku.
Pengalaman aku cukup rumit soal temu bertemu ini. Jika terpaksa harus bertemu dengan terpaksa, kalau bisa jangan sok lucu. Tapi ya mau gimana lagi aku kan emang lucu *skip*
Terus, kalau misalnya ketemu, kalau bisa jangan lama-lama. Tau dong rasanya. Deg deg juaaar... ngomong jadi belepotan gak jelas. Kaki seribupun beraksi. Melangkah dengan pasti. Meninggalkannya pergi. Sejauh mungkin. 
Iya payah. Terserah deh terserah.
Namun sepengalamanku (lagi), saat ketemu tuh harus yah... minimal bersolek dikit lah... namun sesudah ketemu, taukah kamu, bahwa hasil bersolek sudah bubar semua. Apalagi saat foto bersama misalnya. Itu pasti jadinya jelek tiada terkira.
Tapi gak papa... yang penting ketemu kan? Seharusnya malu dan takut bisa menjadi nomer sekian.
Tapi gak bisa. Itu sudah sulit sekali untuk diminimalisir.
Sekian post ngawur aku malam ini. Peluk cium untuk yang masih takut, malu, namun ingin bertemu.


Senin, 25 Februari 2013

"Nanti Kalau Sudah Waktunya"

Gue senang mendengar teman-teman bercerita tentang perjalanan cinta mereka. Walau jenuh dan bergulat di cerita yang masih sama. Namun gue senang mendengarnya. Kisah mereka unik, mengulik dan membuat inspirasi. 
Gue sebagai teman yang rese pun sering berkomentar. Membuat ulah dan saran-sarang yang gak masuk akal. Sekadar ikut nimburung, ikut tertawa, dan ikut men"cie-cie"kan.
Selebihnya gue diam.
Gue kadang-kadang berceletuk "yaelah... gitu doang" atau "ayo dong pastikan", 
"mau sampai kapan sih?" atau "siapa lagi sekarang?"
Namun teman-teman gue baik semua. Mereka jarang beceletuk "Jomblo sih", namun mereka lebih sering menggunakan kiasan yang lebih apik, misalnya "Heni sih gak ngerasain"
Hem... separah itukah aku? Ini sudah semester akhir dan rasa belum juga berubah.

Selalu membual puisi rindu, menaruh hati kepada si abstrak yang entah siapa itu.
Selalu komentar sok bijak. Padahal komentarnya cacat permanen.
Sebenarnya, gue sendiri sadar. Akan keberadaan si dia, sia dia, dia, dia yang cuman ada di hayalan --"
Tapi gue gak berani berkespetasi tinggi. Gue gak berani berharap lebih. Karena sakit hati, sembuhnya gak cukup sekali.
Inspirasi cerita gue kadang-kadang dari masa lalu, yang sebenarnya nggak pernah menjadi awal. Sampai pada akhirnya, gue kadang-kadang memosisikan diri gue di antara mereka. Bagaimana mereka tersenyum karena rindu, menangis karena sudah terlalu pilu, dan tertawa karena dia lucu.
Gue mencoba memahami itu.
Namun.... pada akhirnya seorang teman berkata "nanti kalau sudah waktunya, kamu akan merasakan seperti kita Hen. Sekarang dengarkan kami saja dulu"
Lalu aku diam, berdoa, dan mengaminkan. Entah kapan waktu "itu" :)

Minggu, 24 Februari 2013

Sederhana Saja

Malam ini, aku merasa sedang berbicara dengan seseorang di atas sana. 
Aku baru saja memandang bulan lama sekali. Sambil menunggu angkutan umum datang menjemput. 
Lama juga aku terpana dengan lampu-lampu jalanan, suara bising kendaraan beroda dua, harum asap sate yang mengebul dari pendagang kaki lima, dan suara hatiku sendiri.

Sudah pukul delapan malam lebih rupanya aku berada di sini. Aku senang memerhatikan. Memerhatikan mereka yang bercengkrama sambil menunggu martabak keju selesai dibuat. Tidak lupa aku berdoa dalam hati. Semoga Bandung, tempat aku mengadu tetap aman dan selalu baik hati. 
Aku merasa sedang berbicara dengan dia yang sudah pergi. Sudah pergi meninggalkan yang hidup. Aku rasa jika ada teori bumi itu bulat, perlu ditinjau lagi kebenarannya. Malam ini aku merasa bulan mengikuti. Bulan itu kan satelitnya bumi. Aku merasa satelit itu mengirim sinyal-sinyal kepadaku. Entah apa. Pesan itu belum kutangkap maknanya.

Bulan malam ini tidak bulat. Tidak juga sabit. Ia hanya putih. Namun putih yang tidak bersih. Aku rasa itu sebuah lambang bagaimana hidup manusia. Abu-abu warna bulan itu, persis seperti warna yang tidak hitam dan tidak putih. Refleksi hidup manusia yang sedang dilanda kebimbangan. Bingung memilih.
Dalam lamunanku di pinggir jalan, sebenarnya aku ingin bertegur sapa dengan sesorang di atas sana. Di samping sana, di depan sana. Di manapun. Sebenarnya.

Namun kala itu angkutan umum sudah datang. Aku naik. Mencari tempat duduk yang masih kosong. Duduk dekat pintu. Angin juga tidak kalah mengejar. Ada pesan yang belum ia curahkan. Aku rasa begitu. 
Ku simpan rapat-rapat, pesan angin yang berhembus lebih kencang. 
Aku menunduk.
Oh! Ini dia kudapat pesannya. Lebih sering rendah hati. Lebih sering bersabar. Lebih sering lapang dada. Maka 'angin' yang menerpamu lama kelamaan akan semakin  berkurang.
Aku suka lambang-lambang semesta. Lamunan sesaat. Dan cara Tuhan menunjukkan. Sederhana saja.

Follow my Twitter @_heniie